Ngabang (05/07/17) – Bupati Landak, dr. Karolin Margret Natasa melaksanakan Inspeksi Dadakan (Sidak) ke Dinas Kesehatan Kabupaten Landak. Saat memasuki pintu utama Dinas Kesehatan, hal pertama yang dilakukan mantan Anggota Komisi IX di DPR RI ini adalah menanyakan daftar hadir Pegawai. 
“Pada kemana? Absen mana absennya? Berapa orang staf disini? Pertanyaan bertubi-tubi dilayangkan orang nomor satu di Kabupaten Landak ini sambil mondar-mandir mencari para pegawai. 
Setelah mendapatkan penjelasan dari salah satu pegawai Dinkes terkait situasi kantor yang sepi dikarenakan banyak bidang terlibat dalam kegiatan bhakti sosial yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat di Desa Ansang, Kecamatan Menyuke, Karolin mulai beralih ke ruangan lainnya terpisah dari gedung utama. Dokter lulusan Unika Atmajaya itu tiba-tiba berhenti dan menunjuk ke arah genangan air yang di selokan.
“Ini nie yang menyebabkan penyakit demam berdarah tu. di Dinas Kesehatan aja menggenang airnya” ujar Karolin sembari melangkah berlalu.
Sasaran inspeksi selanjutnya oleh Bupati Karolin adalah gudang obat milik Dinkes. Perempuan Dayak pertama yang menjadi Bupati ini meminta salah satu Staf gudang menjelaskan distribusi obat-obatan dari Dinas Kesehatan kepada Pihak Puskesmas yang ada di Kabupaten Landak. Sembari mendengar penjelasan, sesekali Istri dari dr. Adhy Nugroho itu dengan teliti mengecek setiap kotak yang tersusun di rak khusus penyimpanan obat. Terkait stok obat, memang ada beberapa jenis obat yang telah habis dan sedang dalam proses pengiriman contohnya Amoxcilin sirup, Paracetamol, dan Asam Mefenamat.
 
Terkait dengan persediaan beberapa jenis obat-obatan yang habis, Perempuan pertama yang menjadi Ketum Pengurus Pusat Pemuda Katolik RI itu meminta kepada pihak pengelola untuk bijak dalam memanage persediaan obat. Dengan memahami sifat dan fungsi dari obat-obatan tersebut, Karolin berharap Pihak Dinkes maupun puskesmas dapat mengganti obat-obatan yang habis dengan jenis obat lainnya yang sama fungsi dan cara kerjanya.
 
“Maksud saya jadi kalau yang habis itu gak harus panik-panik gimana kalau misalnya paracetamol itu gak ada ya. Apa gunanya kita sekolah ya kalau orang pakai paracetamol, kita juga harus pake paracetamol padahal kita tahu cara kerjanya sama dan fungsinya sama ya. Kalaupun Puskesmas menanggap paracetamol itu obat dewa, yah dijelaskan kepada mereka, kan ada penggantinya yang lain misalnya Ibuprofen, Natrium Diclofenac, Asam Mefenamat.
 
Sebelum keluar dari gudang obat-obatan milik Dinkes Kabupaten Landak, Dokter yang pernah bertugas di Puskesmas Mandor itu berpesan agar memperhatikan tanggal expired dari setiap obat-obatan yang tersimpan di gudang dan tidak ada transaksi jual beli ketika ada permintaan dari pihak puskesmas.
 
“Pokoknya jangan ada yang sampai expired gak jelas-jelas, bilang staf yang lain juga untuk efektif dan efisien dalam pendistribusian obat dan jangan sampai ada bayar-membayar ya dari puskesmas,” tutup Karolin.